Tip dan Trik Seputar Peternakan Hewan

Pengolahan Limbah Ternak

0

Limbah utama dari industri peternakan adalah kotoran ternak atau feces, urin (air kencing), sisa-sisa rumput dan sisa-sisa konsentrat. Limbah ini akan menimbulkan polusi bila tidak dikelola dengan baik, tetapi bila dikelola dengan benar akan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Selain limbah utama dari industri peternakan adalah kotoran ternak atau feces, urin (air kencing), sisa-sisa rumput dan sisa-sisa konsentrat, ada juga limbah detergen, vaksin, obat-obatan dan bahan kimia (limbah B3), telur busuk dan bangkai ternak. Khusus untuk limbah yang berbahaya ini perlu dilakukan penanganan khusus.

Untuk limbah ternak berupa kemasan bekas vaksin, kemasan obat/desinfektan, telur busuksisa penetasan dan bangkai ternak, umumnya di lakukan dengan cara di bakar kemudian di timbun.

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) tidak dapat begitu saja ditimbun, dibakar atau dibuang ke lingkungan, karena mengandung bahan yang dapat membahayakan manusia dan makhluk hidup lain.

Limbah ini memerlukan cara penanganan yang lebih khusus dibanding limbah yang bukan B3. Limbah B3 perlu diolah, baik secara fisik, biologi, maupun kimia sehingga menjadi tidak berbahaya atau berkurang daya racunnya. Setelah diolah limbah B3 masih memerlukan metode pembuangan yang khusus untuk mencegah resiko terjadi pencemaran.

Beberapa metode penanganan limbah B3 yang umumnya diterapkan adalah:
1) Pengolahan limbah
Pengolahan secara kimia, fisik, atau biologi. Proses pengolahan limbah B3 secara kimia atau fisik yang umumnya dilakukan adalah stabilisasi/solidifikasi. Stabilisasi/solidifikasi adalah proses pengubahan bentuk fisik dan sifat kimia dengan menambahkan bahan peningkat atau senyawa pereaksi tertentu untuk memperkecil atau membatasi pelarutan, pergerakan, atau penyebaran daya racun limbah, sebelum dibuang.

2) Penyimpanan limbah
a) Sumur dalam/ Sumur Injeksi (deep well injection)
Yaitu cara membuang limbah B3 agar tidak membahayakan manusia adalah dengan cara memompakan limbah tersebut melalui pipa kelapisan batuan yang dalam, di bawah lapisanlapisan air tanah dangkal maupun air tanah dalam.

b) Kolam penyimpanan (surface impoundments)
Limbah B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang memang dibuat untuk limbah B3. Kolam-kolam ini dilapisi lapisan pelindung yang dapat mencegah perembesan limbah. Ketika air limbah menguap, senyawa B3 akan terkosentrasi dan mengendap di dasar.

c) Landfill untuk limbah B3 (secure landfils)
Limbah B3 dapat ditimbun pada landfill, namun harus pengamanan tinggi. Pada metode pembuangan secure landfills, limbah B3 ditempatkan dalam drum atau tong-tong, kemudian dikubur dalam landfill yang didesain khusus untuk mencegah pencemaran limbah B3. Landffill ini harus dilengkapi peralatan moditoring yang lengkap untuk mengontrol kondisi limbah B3 dan harus selalu dipantau.

Limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah
ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances).

Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media berbagai tujuan.

Berikut ini adalah beberapa jenis pemanfaatan limbah peternakan yang sering dilakukan untuk berbagai tujuan:

  • Pemanfaatan Untuk Pakan dan Media Cacing Tanah

Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan
esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak.

Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tinja ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan
termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob.

Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50%.(Farida, 2000).

  • Pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik (kompos)

Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk organik.
Penggunaan pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan unsur hara pada tanah juga dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan memperbaiki struktur tanah tersebut.

Kandungan Nitrogen, Posphat, dan Kalium sebagai unsur makro yang diperlukan tanaman, tersaji dalam tabel berikut:
Kadar N, P dan K dalam Pupuk Kandang dari Beberapa Jenis Ternak

Sumber : Nurhasanah, Widodo, Asari, dan Rahmarestia, 2006

Kotoran ternak dapat juga dicampur dengan bahan organik lain untuk mempercepat proses pengomposan serta untuk meningkatkan kualitas kompos tersebut .

Cara Pembuatan Pupuk Kompos
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik.

Bahan Dasar Pembuatan Kompos dari Kotoran Ternak
Pada proses pembuatan pupuk kompos yang menggunakan limbah dari kotoran ternak ruminansia besar (kerbau/sapi) yang merupakan proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik ini menggunakan bahan dasar kotoran ternak yaitu 80-83%, serbuk gergaji (bisa sekam, jerami padi, dll) yang banyaknya berkisar 50 %. Apabila kotoran ternak yang digunakan berasal dari kotoan ayam kandang postal (litter), bahan yang mengandung serat tersebut dapat dikurangi penggunaannya. Bahan yang lain adalah pemacu mikroorganisme (stardec, EM4 dan produk lain yang sejnis)
0,25%, abu sekam 10%, dan kalsit atau kapur 2%.

Proses Pembuatan Kompos
Tempat pembuatan adalah sebidang tempat yang beralaskan tanah, pertama kotoran ternak (sapi/kerbau) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk
mendapatkan kadar air mencapai kurang lebih 60%, kemudian kotoran yang sudah ditiriskan tersebut dicampur serbuk gergaji atau bahan yang sejenis seperti sekam,jerami/limbah tanaman yang lain, abu, kalsit/kapur dan dekomposer (stardec,
EM4 dll) sesuai dosis.

Setelah dicampur dengan bahan tambahan tadi, kemudian di aduk dan ditumpuk. Tinggi tumpukan sebaiknya minimal 1 meter, hal ini bertujuan agar suhu dalam tumpukan bahan
kompos mencapai suhu optimal, sehingga gulma yang terdapat di dalam bahan kompos mati. Untuk memelihara kelembaban bahan kompos, lakukan penyiraman dengan air bersmaan dengan proses pembalikan bahan kompos tersebut.

Pembalikan bahan kompos dilakukan seminggu sekali hingga kompos matang.
Setelah kompos matang, kompos diayak untuk memisahakan kompos dengan bahan lain yang tidak diperlukan. Kemudian kompos yang sudah diayak di kemas dan ditimbang. Simpan kompos yang sudah dikemas pada tempat yang kering dan teduh. Kompos sudah siap digunakan atau di jual.